Senin, 27 Januari 2014

Yang Penting Berperan!

Nyalakan sinarmu, terangi dunia...dengan peranmu

http://news.detik.com/read/2014/01/22/102748/2474431/10/caleg-pkpi-destiara-talita-bicara-pose-seksi-di-kalender-2014

Hmm.....rupanya berita ini cukup menghebohkan. Banyak tanggapan yang kebanyakan 'miring' tentang teman separtaiku ini. Hehe.....meski aku tidak kenal secara pribadi, namun sebagai sesama caleg dari partai yang sama aku merasa perlu ikut mengomentari agar terjadi keseimbangan cara pandang.

Ada seorang adik kelasku yg hebat di STAN  menuliskan di status FB nya seperti ini:
Bang Yos, aku mau jadi caleg juga. Tebusannya cuma 4/10x50jt.
Pendidikan S1.
Pengalaman kerja 5th.
Pengalaman Volunteer 4th.
Kemampuan Bhs. Inggris baik.
SKCK ada.
Apalagi?
Sayang, Fitri yang cantik, pinter, hebat, shalihah, masih banyak lagi syaratnya lho.....tapi kamu pasti bisa memenuhi syarat itu, hehe bisa jadi bagimu syarat itu sangat ringan, karena kamu memang hebat, sangat bangga mb Dewi mempunyai adik kelas sepertimu. Menjadi caleg bukan hanya harus memenuhi syarat administrasi formal seperti itu. Jika hanya itu, maka sangaaaaat banyak yang memenuhi syarat. Bagi Fitri, wah.......gampang banget itu. Bahkan syarat lain pun pasti Fitri memenuhinya, makanya hayo donk, silahkan mengambil peran sebagai calon anggota legislatif dari PKPI! :D

Selain syarat administratif, menjadi seorang caleg bagi PNS harus juga siap melepaskan status PNS sebelum mendaftar! Berarti bahkan sebelum masuk Daftar Calon Sementara saja sudah harus melepaskan PNS nya. Tidak ada kepastian sama sekali bakal lolos menjadi aleg, namun harus sudah melepaskan pekerjaan lama sebagai PNS. Jadi......bagi para "pencari kerja", sangat tidak cocok. Pastinya, karena memang bidang  ini bukanlah sebuah tempat mencari penghasilan. Menjadi caleg berarti siap melakukan pengabdian, mengorbankan banyak hal, terutama egoisme dan kesabaran yang sangat tinggi.

Kenapa harus sabar? Iya sayang.....menjadi caleg berarti dia sudah menjadi orang yang bersedia terekspos secara luas, yang artinya siap menghadapi semua konsekuansinya. Salah satunya di bully di media, apalagi jaman sekarang dimana setiap orang punya akses ke media, mempunyai kesempatan mengekspresikan diri, berpendapat, bahkan menghujat siapapun melalui berbagai media sosial. Ini sangat tidak ringan lho, dibully di media sosial yang dibaca jutaan orang di seluruh dunia, oleh siapapun juga. Terkadang, yang mem bully adalah orang yang sama sekali tidak tahu siapa kita, namun seenaknya menghakimi, menuduh, dll pandangan negatif yang bisa saja mempengaruhi siapapun, yang membaca ikut menganggap kita seperti yang disangkakan.

Belum lagi jika yang membully adalah orang yang sangat kita kenal, yang menurut kita mempunyai kompetensi jauh di bawah kita namun mengatakan hal2 yang seolah kita sangat buruk, bodoh, tidak kompeten, dll. Caleg kan masih manusia biasa, jadi sebenarnya jika menghadapi hal seperti ini akan sangat sakit hati, tersinggung, namun tetap harus sabar dan bijak menghadapinya. Menurutku ini sangat tidak gampang.
Menjadi caleg, berarti harus siap turun tangan, menyiapkan fisik, mental, mengeluarkan biaya pribadi yang tentunya akan menjadi urunan sedekah infak atau apalah yang artinya tidak ada yang akan menggantinya karenanya harus ikhlas tidak akan mencari dana pengembalian jika nanti terpilih, pun tidak akan stress jika nanti tidak terpilih, untuk mondar mandir ke daerah pemilihan melakukan sosialisasi, tidak jarang sampai tengah malam, tidak ada kompensasi apapun dari siapapun, dan harus siap jika kedatangan kita akan ditanggapi secara negatif, perlakuan tidak enak, atau tuduhan2 lain yang bisa saja akan kita terima, padahal kita tidak seperti yang mereka tuduhkan.

Lalu.....di tempat lain juga ada yg menanggapi pencalegan mbak Destiara Talita ini dengan merendahkan beliau, menganggap beliau tidak mampu, mempertanyakan peran beliau, dll.

Teman2ku yang hebat, sekali lagi kutegaskan aku belum mengenal mbak Destiara secara pribadi. Karenanya aku hanya berprasangka baik, bahwa pasti ada alasan tertentu sehingga Bang Yos, Jend. Soetiyoso, menerima beliau sebagai salah satu caleg dari PKPI daerah pemilihan Jawa Barat dengan nomer urut 6. Mengenai kompetensi, jujur saja aku tidak berani menghakimi siapapun juga karena bisa jadi orang yang aku anggap sangat tidak kompeten ternyata mempunyai kompetensi jauh di atas yang aku mampu. Yang pasti, siapapun manusia di dunia ini diciptakan dengan alasan yang pasti baik, bahwa dia mempunyai kemampuan yang bisa jadi tidak dimiliki orang lain yang akan bermanfaat bagi dunia. Tidak mungkin manusia diciptakan tanpa kelebihan, tanpa kehebatan tertentu, dan tidak mungkin manusia diciptakan tanpa tujuan akan memberi manfaat apapun. Itu keyakinanku.
Aku sangat menghargai siapapun yang menyatakan diri dan menyediakan dirinya, dan berbuat, bertindak, melakukan sesuatu untuk berperan dalam bidang apapun termasuk menjadi caleg di negeri indahnya ini, di Indonesia. Tidak ada peran besar atau peran kecil, karena semua memerlukan peran kita, semua peran sama pentingnya, tidak ada yang lebih penting atau yang kurang penting. Yang penting, kita harus berperan! Ambil sebuah peran! Pilih sebuah peran! Silahkan pilih peran masing2, jangan merendahkan peran orang lain, cukuplah dengan fokus, serius, sungguh2, dalam melakukan perannya tersebut. Tidak ada yang salah dalam berperan. Yang salah adalah apabila kita tidak berperan.

Just my two cent. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.




Selasa, 21 Januari 2014

Saksi Parpol Akan Dibiayai Negara

Saksi Parpol Akan Dibiayai Negara - Dinilai Bisa Tingkatkan Legitimasi Pemilu

Ketua Bawaslu Muhammad (tengah) bersama anggota Bawaslu Nasrullah (kanan) dan Koordinator Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) Yus Fitriadi memberikan keterangan terkait Gerakan Sejuta Relawan Pemilu di Jakarta kemarin.Gerakan ini bertujuan menggugah partisipasi publik dalam pelaksanaan pemilu yang bersih, berkualitas, dan bermartabat.
JAKARTA– Pemerintah akhirnya setuju membiayai pengadaan mitra pengawas pemilu dan saksi 12 partai politik di setiap tempat pemungutan suara (TPS) baik di dalam maupun luar negeri. Anggaran untuk saksi akan diberikan melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

“Kami sudah ketemu Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan Direktur Jenderal Anggaran. Akhirnya pemerintah setuju back-up anggaran terkait mitra pengawas pemilu lapangan (PPL). Pemerintah juga mengakomodasi anggaran saksi parpol di setiap TPS,” ungkap Ketua Bawaslu Muhammad di Jakarta kemarin. Dia menjelaskan, di setiap TPS akan ada dua orang mitra PPL. Mereka akan melakukan pengawasan saat penyelenggaraan pemungutan suara.

Mitra PPL juga akan diberikan formulir C-1 (rincian perolehan suara sah) oleh KPU untuk dilaporkan ke pengawas pemilu di tingkat atas. Presiden, lanjut Muhammad, sudah dilaporkan terkait ini. Responsnya sangat positif dan meminta Menkopolhukam menyiapkan perpres. Saat ini pemerintah sudah menyiapkan peraturan presiden (perpres) di Kemendagri untuk mengeluarkan anggaran tambahan. “Untuk mitra PPL, kami diberi anggaran sebesar Rp800 miliar,” katanya.

Menurut dia, anggaran itu tidak hanya honor, tapi juga bimbingan teknis (bimtek) agar pada hari H mitra PPL benarbenar siap melakukan pengawasan di TPS. Untuk saksi partai politik, anggaran yang dikeluarkan sebesar Rp700 miliar. “Anggaran saksi parpol itu satu saksi honornya Rp100 ribu. Untuk mitra PPL dan saksi parpol dikucurkan anggaran Rp1,5 triliun,” sebutnya. Menurut Muhammad, kesediaan pemerintah membiayai saksi parpol ini dilandasi atas masukan yang disampaikan para pimpinan parpol di tingkat pusat bahwa biaya pengadaan saksi sangat besar untuk parpol, padahal saksi parpol di TPS sangat penting.

Dengan begitu, dalam rangka memastikan proses pengawas pemilu terawasi seluruhnya oleh saksi parpol, pemerintah menyetujui ini. Selain itu, Kemenkeu pun memiliki dana cadangan pemilu Rp2 triliun untuk ihwal mendesak. “Mudah-mudahan dengan saksi partai itu, gugatan dapat dikurangi,” katanya. Anggota KPU Sigit Pamungkas menilai, terlepas dari siapa yang membiayai saksi parpol, bagi KPU, semakin banyak saksi yang hadir dalam proses pemilihan, legitimasi pemilu akan semakin kuat.

“Itu akan memperkuat pemilu karena prosesnya diawasi banyak pihak. Jadi kekurangan yang selama ini diasumsikan menggejala dapat ditekan pada titik terendah. Saksi-saksi ini jadi alat kontrol bagi penyelenggara pemilu,” tuturnya. Sementara itu, Deputi Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz berpendapat, alangkah lebih efektif jika mitra PPL dijadikan sebagai PPL sebab di tiap desa hanya ada 1-2 orang PPL.

“Dari sudut perorganisasiannya, mitra PPL sekaligus jadi PPL bisaja dipunya hak dan kewajiban, pertanggung jawabannya langsung ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu),” katanya Menurut Masykurudin, saksi parpol sangat penting. Namun, dia menilai agak berbahaya ketika saksi untuk parpol dibiayai negara.”Dia (saksi parpol) dibiayai negara, tapi kerjanya buat parpol, agak berbahaya. Biar parpol biayain sendiri,” ucapnya. Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Hanura Ahmad Rofiq mengatakan, itikad pemerintah yang sudah menyetujui untuk membiayai saksi parpol tentu akan membuat kualitas demokrasi baik.

“Karena ini akan menjadi momentum bagi penyelenggara dan peserta pemilu untuk meminimalisasi kecurangan dan rakyat yang memilih tidak sia-sia. Intinya Hanura menyambut hangat atas inisiatif ini,” ungkapnya. Dia melanjutkan, Hanura sejak awal telah mempersiapkan diri untuk membiayai seluruh keperluan saksi sampai pada pembayaran saksi per TPS. Dalam situasi apa pun, Hanura sangat siap memenuhi saksi seluruh TPS. Hanura juga telah menyiapkan pos pendanaan dan sudah mengalokasikan pendanaan sak-si sejak awal.

Menurut Rofiq, pihaknya bahkan sudah membuat juklak dan juknis rekrutmen saksi, pelatihan, dan pembayaran saksi. “Dengan kesediaan pemerintah ini, dana yang sudah teralokasi sudah barang tentu akan dimaksimalkan untuk keperluan kampanye partai dan WIN-HT. Bagi Hanura dan WIN-HT, kemenangan adalah keharusan sejarah yang harus direbut. Motivasi kami semua adalah perubahan demi kemajuan bangsa dan negara ini,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, Ketua DPP Partai Demokrat Andi Nurpati menilai, pembiayaan saksi oleh pemerintah ini membuat pengeluaran negara untuk pemilu semakin membengkak. “Biayanya besar. Tapi, yaini ringan bagi partai sehingga partai-partai setuju,” kata dia di Kantor KPU, Jakarta, kemarin. Menurut Andi, Partai Demokrat sedang melakukan komunikasi untuk membuat mekanisme pembagian biaya saksi. “Sharing, partai yang bayar honor misalnya Rp50.000. Nanti caleg di sana yang bayarin makannya,” ungkapnya. murey widya

 Bagaimana pendapat Anda?

Senin, 20 Januari 2014

Jangan Membenarkan Yang Biasa Tetapi Biasakan Yang Benar

Tag line ini memang aku banget, apa yang aku upayakan aku lakukan sejak dulu hingga sekarang. Aku bukan orang hebat, bukan orang suci, bukan orang serba tahu. Aku hanya orang biasa yang ingin menjadi lebih baik setiap harinya, mengusahakan berbuat yang terbaik yang bisa dilakukan, yang bisa diupayakan, yang bisa diperjuangkan, dengan kemampuan yang kumiliki.

Banyak hal yang sudah biasa diyakini orang, dilakukan orang, meskipun sebenarnya itu bukanlah hal yang benar. Namun karena sudah sangat biasa, sudah sehari2 terjadi, maka itulah yang dianggap benar, kebiasaan yang dibenarkan. Sementara ada hal yang benar, namun karena tidak dilakukan, tidak diyakini, maka malahan tidak dilakukan, tidak dibiasakan, semoga saja hal tersebut tidak kemudian menjadi dianggap salah.

Seperti yang kulakukan membiasakan yang benar, seringkali dianggap aneh oleh banyak pihak. Hanya karena aku berbeda, tidak membenarkan yang sudah menjadi kebiasaan karena menurutku hal tersebut bukanlah hal yang seharusnya, bukanlah sebuah kebenaran, hanya kebiasaan, maka akulah yang dianggap tidak wajar, ora lumrah. Ya itu resikoku, dianggap aneh oleh banyak orang. Aku jadi ingat dulu saat aku keukeuh dengan prinsipku, tidak mau merubah, tidak mau nurut melakukan hal yang sama dengan yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat, maka ada yg menegurku; 

"Dewi, saya tahu apa yang anda lakukan itu benar, tapi hanya anda yang melakukannya. Semua orang tidak seperti itu. Ibaratnya semua orang gila, jika Dewi sendiri yang tidak gila, maka Dewilah yang akan dianggap gila."

'Bapak yang baik, maaf ya Pak tadi Bapak sendiri yang bilang jadi kita berdua sama2 tahu bahwa semua orang gila kecuali saya. Kalau saya, kita, sudah tahu bahwa semua orang yang mengatakan saya gila itu adalah orang gila, buat apa saya takut? Wong yang ngatain saya gila jelas2 orang gila kok. Jadi ya bagi saya tidak masalah jika orang2 gila mengatakan saya gila. Baru masalah kalau yang mengatakan adalah bukan orang gila.' begitulah jawabku halus. Dan si Bapak hanya bengong.......percuma ngasih tahu Dewi ini, mungkin begitu batinnya.

Begitulah.......perjuangan membiasakan yang benar tidaklah mudah meski terdengar remeh, terlihat sederhana. Membenarkan yang biasa sudah terlalu mendarah daging di masyarakat. Memprihatinkan.....

Teman semua.....yuk kita membiasakan yang benar, paling tidak dalam pemilu kali ini. Jangan melakukan kampanye dengan pembodohan masyarakat. Jangan beli suara rakyat, jangan injak2 harga diri rakyat. Jadilah wakil rakyat yang dipilih karena dipercaya rakyat bisa membawa, memperjuangkan, dan mengawal aspirasi mereka. Jadilah wakil rakyat, bukan hanya menjadi wakil partai atau wakil golongan tertentu. Saat kita terpilih, maka kita wakil rakyat. Kepentingan rakyat haruslah menjadi agenda utama, menjadi yang terpenting daripada kepentingan partai, pribadi, atau golongan.

Sekali lagi: Jangan Membenarkan Yang Biasa Tetapi Biasakan Yang Benar

Jumat, 03 Januari 2014

ANTARA Jateng : DCT Anggota DPR RI Dapil Jateng V - antarajateng.com



ANTARA Jateng : DCT Anggota DPR RI Dapil Jateng V - antarajateng.com



Bisnis.com, JAKARTA – Berikut Daftar Calon Tetap Anggota DPR RI Pemilu 2014 dari daerah pemilihan Jawa Tengah V, Provinsi Jawa Tengah, yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, Kamis (23/8/2013).
1. PARTAI NASDEM
1. Sarwoto Atmosutarmo 2. Eva Yuliana, M.Si 3. Hj. Rr. Cristina Nataningdita 4. Oktino Setyo Irawan, Se, MH 5. Indah Prasetyari, SH 6. Burhan Purnomo, S.Sos. 7. Sarsitowati Nonik Rulianti 8. Tri Bintang Budiharjo, S.Pd., M.Pd.

2. PARTAI KEBANGKITAN BANGSA
1. H. Mohamad Toha 2. H. Hisam Mawardi, Sh, Kn 3. Theodora Meilani Setyowati 4. H. Muhajirin, Mm 5. Ach. Saifudin Zuhri A, S.Ip 6. Evin Novia 7. Sri Untari Puji Hastuti 8. Adityawarman
3. PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
1. H. Abdul Kharis Almasyhari, Se., M.Si., Akt. 2. Mahmud 3. Yeny Susana 4. Mustofa B. Nahrawardaya 5. Endang Dwi Astuti, S.Ip, M.Si 6. H. Haryanto, S.Pd 7. Marjuki, S.Ip 8. Rina Ernamawati, S.Farm, Apt
4. PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN
1. Puan Maharani 2. Aria Bima 3. Darmawan Prasodjo. Phd 4. Alfia Reziani 5. Indra Kramadipa 6. Hery Hastuti 7. Stephanie Octavia 8. Rahmad Handoyo, S.Pi, Mm
5. PARTAI GOLONGAN KARYA
1. Dr. Ir. H. Eko Sarjono Putro, Mm 2. Dr. H. Agustian Budi Prasetya, Mpa 3. Arianti Dewi, Sh, Mh 4. Dina Hidayana, S.P., M.Sc 5. Ir.H. Agus Mulyanto 6. H. Sutomo, S.Pd., M.Kes 7. Drs. H. Hardono, Mh., Mm. 8. Endang Srikarti Handayani, Sh, Mhum
6. PARTAI GERINDRA
1. H. Bambang Riyanto, Sh, Mh, M.Si 2. M. Sukri 3. Rr. Murti Sari Dewi 4. Dr.Ir. I Heruwasto 5. Linda Utami Z B Mahendradatta 6. Dr. Kph. Warsito Sanyoto, Sh, Mh 7. H. Sutarna 8. Dr. Sri Durjati
7. PARTAI DEMOKRAT
1. Dra. Gray Koes Moertiyah, Mpd 2. Endu Marsono 3. Y. Wibowo Agung Sanyoto 4. Decky Hardijantho 5. Wisnu Wahyu Hardjanto, Se 6. Mahandari Wungu 7. Baharudin Hakim, Sh 8. Candra Dewi Yuana
8. PARTAI AMANAT NASIONAL
1. Yusuf Wibisono, Se 2. Mohammad Hatta 3. Dra. Hidayah Rochmah, M.Si 4. Nurdin, Sh 5. Rio Siby, S.Th 6. Prihatin Kusdini, Sh 7. H. Afda Rizal Armashita, Se, M.Hum, Ak 8. Hayu Lusianawati
9. PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN
1. Angel Lelga Anggreyani 2. Makmun Halim Thohari 3. H. Suryanto, Sh 4. Deasy Aryani Larasati 5. Muhammad Agus Choliq 6. Titik Widayati, S.St 7. Suryo Broto, Mba, M. Sc 8. H. Slamet Badrudin, S.Ag
10. PARTAI HANURA
1. Dr.H.Teguh Samudera,Sh,Mh 2. Singgih Sudarmawan, Sh 3. Nevi Ariestawaty 4. Drg.Bambang Hadibowo,Mph,Mha 5. Dr.Sadino,Sh,Mh 6. Yanti Panjaitan 7. Tunggul Tranggono 8. Anna Ganaeni
14. PARTAI BULAN BINTANG
1. Rm Djoko Budi Suharnowo 2. Bambang Setiawan, Sh 3. Syamsiyah Fitriani, Skm 4. Drs. M. Daud Na'am 5. Agus Sudarmadji 6. Siti Kusmindiyati, S.Pd. Kim 7. Muhammad Musa 8. Neli Susanti, A.Md
15. PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
1. Herman Dogopia 2. Pramono 3. Winarsih Dewi, A. Ak 4. Ir. Drs. Soeyanto Ducko P 5. Nur Ramadhani Indraswari 6. Drs. Gagah Sunu Sumantri, M. Pd 7. Prima Luthfia, Drg 8. Drs. Widi Nugraha

Penetapan DCT Anggota DPR RI Pemilu 2014 ditandatangani oleh Ketua KPU Husni Kamil Manik dan para anggota KPU Arief Budiman, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Hadar Nafis Gumay, Ida Budhiati, Juri Ardiantoro, dan Sigit Pamungkas.
Untuk nomor urut parpol dari 11 sampai dengan 13 merupakan parpol lokal Nanggroe Aceh Darusalam yang tidak ikut pemilihan untuk caleg DPR RI.

Editor : Fatkhul Maskur

Kamis, 02 Januari 2014

Foto2 Kegiatanku.....




Jujur, Adil, Amanah







Rakor dan Pembekalan Caleg DPRRI & DPRD I Jateng
Oleh Bang Yos & DPP Jateng





One-way stiker Mobil
Yg Jalan2 Di Solo Raya


Kementrian
Pemberdayaan Perempuan




Di SMAN 1 Surakarta




Sosialisasi, Koordinasi
Teman2 SMPN 1 Sawit
Boyolali

Sosialisasi
Sekalian Antar Anak Mau Kuliah







Selamat Tahun Baru
2014 M
Banner



Bersama Marching Band Keren...



@ MetroTv





Sbg Relawan FGIM
  Bpk Anies Baswedan












Buku Antalogiku

Menerbangkan Lampion
 



 

Koordinasi
Teman2 SMPN 1 Sawit Byl


Jualan Buku Untuk Kas Alumni





 

Bersama Guru2 SD Yg Hebat
Menyiapkan Generasi







Dari Klaten Sosialisasi
Mampir Prambanan Perbatasan Dapil Jateng V










Karnaval 






Debat Caleg
MetroTV

Caleg Artis




Ucapan Selamat Puasa






Selasa, 31 Desember 2013

SELAMAT TAHUN BARU 2014 M





Hari ini 31 Desember 2013 adalah hari terakhir di tahun 2013 Masehi dan besok adalah hari pertama di tahun 2014 Masehi. Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) berasal dari bahasa Arab (المسيح), yang berarti "yang membasuh," "mengusap" atau "membelai." Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih karena itu kalender ini dinamakan menurut Yesus atau Masihiyah. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. 

Sejarawan tidak mengenal tahun 0, tahun 1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem. Seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi. Di Indonesia selain tahun Masehi yang digunakan secara resmi, secara tidak resmi masyarakat juga mengenal tahun Hijriyah/tahun islam dan tahun Imlek/tahun Tionghoa dan ada juga tahun Jawa. 

Tim relawanku, teman2 yang membantuku, menanyakan apa yang akan kami berikan kepada konstituen kami, calon bosku, sementara katanya di lapangan  caleg lain sudah banyak memberi kepada masyarakat dalam sosialisasi mereka. Ooh.......maafkan aku saudara2ku, aku memang tidak bisa memberi apa2 selain kerja bener dan amanah mendengar, menampung, mengawal, dan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat. Aku tidak ingin membebani rakyat dengan biaya politik yang tinggi. Aku hanya mengeluarkan biaya sebatas jumlah yang aku ikhlaskan dan kuanggap sebagai iuranku pada demokrasi, pada negaraku tercinta. Sehingga jika aku terpilih menjadi wakil rakyat maka aku tidak akan berusaha mengembalikan biaya yang sudah aku keluarkan (balik modal) dan sebaliknya jika pun aku tidak terpilih maka aku tidak akan stress karena memang sudah aku ikhlaskan.

Sebagai kenang2an, aku hanya akan memberikan kalender yang insya Allah akan bermanfaat setahun ke depan, kepada masyarakat konstituenku di daerah pemilihanku yang meliputi Kab. Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Kota Surakarta (Solo). Itupun aku tandem bertiga dengan caleg DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten Kota sehingga bisa berbagi biaya. Mohon maaf teman2ku jika hanya sebagian saja yang akan bisa mendapatkannya karena terbatasnya jumlah kalender yang kami cetak yang dikarenakan keterbatasan dana. Segitu amat sih Dew? Kan kalender itu murah, paling juga Rp 2.000,- sampai Rp 5.000,- sebijinya! Hehe....betul. Tapi coba saja hitung, jika harus cetak sebanyak pemilih Dapilku sementara itu dari Daftar Pemilih Sementara seluruh Jawa Tengah 26.445.718, jika dibagi 10 Dapil secara kasar maka pemilih di Dapilku sebanyak 2.644.571 orang. Jadi Rp 2.000,- X 2.644.571 = Rp 5.289.142.000,- wow....lebih dari Rp 5 M. Haha......mana mungkin aku bisa cetak sebanyak itu kan. Mohon maklum yaa.......

Aku yakin, rakyat sekarang sangat cerdas, sangat mengerti siapa-siapa yang pantas mewakili mereka duduk di legislatif untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Rakyat yang cerdas tidak akan menjual suara mereka. Tidak akan menggadaikan masa depan anak cucunya, generasi penerusnya, masa depan bangsanya. Untuk merubah negara ini, untuk memperbaiki negara ini, maka rakyat harus mempercayakan tugas legislasi kepada wakil2nya yang amanah. Dalam konsep Trias Politika, di mana DPR berperan sebagai lembaga legislatif yang berfungsi untuk membuat undang-undang dan mengawasi jalannya pelaksanaan undang-undang yang dilakukan oleh pemerintah sebagai lembaga eksekutif. Fungsi pengawasan dapat dikatakan telah berjalan dengan baik apabila DPR dapat melakukan tindakan kritis atas kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat. Sementara itu, fungsi legislasi dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila produk hukum yang dikeluarkan oleh DPR dapat memenuhi aspirasi dan kepentingan seluruh rakyat.

Seperti yang pernah aku sampaikan, bahwa jika ada yang menanyakan apa sih kehebatanku? Maka aku jawab bahwa aku sama sekali tidak hebat. Aku hanya melakukan semuanya dengan sepenuh cinta.

Semoga mimpiku, cita-citaku, dan keinginan besarku suatu hari negri indahku Indonesia akan Jaya, menjadi Macan Asia, bahkan menjadi negara besar dunia. Nanti.....surga dunia ciptaanNya ini akan bisa kita wariskan kepada generasi penerus, anak cucu kita, sebagai sebuah warisan yang membanggakan. Bukan malah mewarisi utang dan kerusakan. Aku ingin anak bangsa ini nanti menjadi tuan rumah di negri indah mereka ini, dan tegak mengangkat kepalanya karena bangga dan percaya diri punya harga diri jika berhadapan dengan pihak asing. Karena mereka adalah BERLIAN nya Bangsa Indonesia. Mereka pilihan. Mereka adalah masa depan bangsa. Mereka aset terpenting bangsa ini. Yuk bersama kita siapkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa karena Indonesia di masa depan adalah mereka.

SELAMAT TAHUN BARU 2014 M

Kamis, 26 Desember 2013

Money Politik Atau Politik Murah?

Politik uang atau politik perut adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembelian bisa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang adalah sebuah bentuk pelanggaran kampanye. Praktik politik uang dilakukan dengan cara pemberian berbentuk uang, sembako antara lain beras, minyak dan gula, dll kepada masyarakat dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mereka memberikan suaranya untuk partai/calon yang bersangkutan.
  
Dasar Hukum: Pasal 73 ayat 3 Undang Undang No. 3 tahun 1999 berbunyi:
"Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu."

Sejak sebelum ditetapkan sebagai bacaleg, sudah banyak orang yang mendatangiku baik langsung maupun melalui alat komunikasi untuk menawarkan diri sebagai tim sukses, penggalang massa, maupun pelaksana lapangan untuk memenangkan diriku agar bisa menempati posisi sebagai anggota DPRRI, sebagai wakil rakyat yang berkantor di Senayan. Hampir semuanya mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman mereka, untuk mendulang suara diperlukan biaya mulai dari sekedar snack, makan siang, sembako, sampai uang transport bahkan uang pengganti penghasilan mereka hari itu karena harus berkumpul ke tempat yang ditentukan.

Tentu saja semua aku tolak dengan halus karena aku sama sekali tidak berniat mendulang suara dengan cara tersebut. Dan tidak sedikit yang mencibirku mengatakan bahwa aku pemimpi, tidak logis, sok idealis, dan akan ketinggalan kereta karena hampir semua calon melakukan hal yang sama dengan penyajian yang beragam menyiasati agar terhindar dari jeratan peraturan yang melarang adanya politik uang.

Aku tidak perlu siasat apa-apa, karena aku sama sekali tidak melakukan politik uang. Uang yang aku libatkan dalam kampanyeku hanyalah biaya untuk ongkos transportasi, penginapan jika harus,  karena aku harus ke dapilku untuk sosialisasi, koordinasi, maupun menyerap aspirasi. Lalu untuk membeli alat kampanye seperti kartu nama, banner, spanduk (sedikit sekali), maupun pulsa untuk koordinasi melalui telpon maupun pulsa data untuk berinternet.

Itupun aku berusaha sehemat mungkin. Jika harus ke Dapil atau ke manapun untuk koordinasi maka aku akan memilih moda angkutan yang murah meski tetep mencari yang cukup nyaman. Kereta atau bis masih menjadi pilihan jika tidak mendapatkan tiket pesawat promo. Losmen atau hotel melati menjadi pilihan jika harus menginap. Berbagi dalam pembuatan spanduk, kalender, juga aku lakukan dengan memilih kampanye tandem dengan caleg DPRD Propinsi maupun Kabupaten Kota.

Ya.....aku tidak ingin membebani pencalonanku dengan biaya tinggi apalagi politik uang. Aku memilih untuk menerapkan demokrasi yang murah, politik berbiaya rendah, agar jika aku nanti terpilih maka aku tidak akan mencari cara untuk mengembalikan biaya kampanyeku dengan korupsi. Pun jika aku belum dipercaya rakyat maka aku tidak akan stress karena biaya yang telah aku keluarkan hanyalah sebesar biaya yang aku ikhlaskan sebagai infaq, sebagai urunanku kepada demokrasi, kepada negaraku, kepada rakyat, pemegang kedaulatan tertinggi di negaraku.


Jumat, 20 Desember 2013

Jangan Korupsi, Pesan Bang Yos








"Jangan korupsi!" Demikian pesan Bang Yos dalam rapat koordinasi dan pembekalan caleg DPRRI dan DPRD Jawa Tengah yang dilaksanakan di Pondok Remaja dan Camping Ground Salib Putih kopeng Salatiga, Jawa Tengah.

Sampai saat ini PKPI masih menjadi partai yang paling bersih di negri ini, dilihat dari ratusan kader PKPI yang sudah duduk sebagai anggota legislatif. Semoga sampai nanti. Tidak ada satupun anggota legislatif dari PKPI yang menjadi tersangka, terdakwa, apalagi terpidana korupsi.

Tidak heran, karena ketua umum PKPI, Jend. DR. HC. H. Soetiyoso sangat intens mengingatkan para kadernya, para calon anggota legislatif jika nanti terpilih, agar:
1. Kita harus tahu persis berapa gaji, tunjangan, dan pemasukan lain2 yang memang menjadi hak kita sesuai peraturan yang berlaku.
2. Jangan mau menerima jika ada uang lain sekecil apapun sebelum yakin bahwa uang tersebut halal tidak melanggar hukum dan peraturan.
3. Jangan melakukan nepotisme, ini sudah dimulai dari diri bang Yos sendiri dengan tidak mengijinkan pengurus untuk memasukkan anggota keluarga Bang Yos sebagai salah satu calon anggota legislatif tingkat manapun.

Demikian sebagian dari pengarahan dan pembekalan yang disampaikan oleh Bang yos.

Kamis, 24 Oktober 2013

Berbicara Atau Mendengar?

Setelah resmi menjadi calon tetap anggota legislatif 2014-2019 yang disahkan oleh KPU, maka aku harus, mau tidak mau, bekerja mengusahakan semaksimal mungkin dengan sumber daya yang aku punya dan relakan untuk kuinfaqkan, kupersembahkan, kuabdikan kepada negaraku tercinta, untuk sosialisasi diri, memaparkan program, dan silaturrohim dengan masyarakat, dengan konstituen, dengan harapan mereka bisa memutuskan memilih wakilnya di DPRRI dengan pertimbangan yang matang dan rasional.

Aku sangat berharap pemilu 9 April 2014 nanti akan menjadi momentum yang indah kembalinya negriku ke arah yang semakin cerah dengan terpilihnya para wakil rakyat yang benar-benar memikirkan negaranya, bangsanya, rakyatnya, dan bukan memikirkan partainya, golongannya, keluarganya, dirinya sendiri. Aku ingin, dan aku pribadi meniatkan diri, nawaitu, begitu terpilih dan dinyatakan secara resmi sebagai wakil rakyat, maka aku adalah wakil rakyat Indonesia yang bekerja demi rakyat bos yang kuwakili kepentingannya, karena merekalah pemegang saham negara ini, kepada merekalah aku bekerja, dan sekaligus merekalah yang membayar gajiku sebagai wakil rakyat. Kepada merekalah aku bertanggungjawab selain pada Yang Maha Segala tentunya.

Karena keterbatasanku terutama dalam hal dana, dan juga kemampuan berkata-kata, apalagi menjanjikan sesuatu yang belum tentu aku bisa penuhi, maka aku memilih untuk tidak banyak berbicara, tidak banyak menjanjikan apalagi hal yang absurd. Aku hanya mendengarkan apa yang diinginkan rakyat, konstituenku, apabila aku nanti terpilih menjadi wakil mereka. Aku akan memperjuangkan kepentingan rakyatku, bangsaku, demi kemajuan negaraku, sesuai aturan yang ada.

Ya........aku memilih mendengar daripada berbicara.

Rabu, 23 Oktober 2013

Mengibarkan Bendera Setengah Tiang


30 September biasa diperingati sebagai hari berkabung nasional, pemberontakan Gerakan 30 September (G30S).  Gerakan 30 September (dahulu juga disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:
  • Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
  • Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)
  • Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
  • Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.

 Sesudah kejadian tersebut, 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September (G-30-S/PKI). Hari berikutnya, 1 Oktober, ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada masa pemerintahan Soeharto, biasanya sebuah film mengenai kejadian tersebut juga ditayangkan di seluruh stasiun televisi di Indonesia setiap tahun pada tanggal 30 September. Selain itu pada masa Soeharto biasanya dilakukan upacara bendera di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya dan dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pahlawan revolusi di TMP Kalibata. Namun sejak era Reformasi bergulir, film itu sudah tidak ditayangkan lagi dan hanya tradisi tabur bunga yang dilanjutkan.

Nah....Princessku pun kuajari bagaimana mengibarkan bendera setengah tiang. Dia sendiri yang mengikat bendera, lalu menaikkannya penuh satu tiang, baru kemudian diturunkan kembali sampai setengah tiang.

Selesai mengibarkan bendera, tentu saja dia memberikan hormatnya sebelum berangkat ke sekolah.

Mengibarkan bendera, memberi hormat, adalah salah satu caraku menanamkan nasionalismenya. Semua berlianku akan berdiri dengan khidmad, meletakkan tangan kanannya di dada kiri, jika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Nasionalisme  sederhana, namun penting ditanamkan pada setiap anak bangsa sejak kecil. Karakter bangsa sangat diperlukan jika kita ingin masa depan bangsa aman. Karena Indonesia 30 tahun mendatang ditentukan oleh bagaimana kita menyiapkan anak-anak sekarang.








Rabu, 28 Agustus 2013

Akuntabilitas? Integritas?


Sejak aku menyatakan diri sebagai salah satu caleg DPRRI, aku mendapatkan berbagai tanggapan dari keluarga, kerabat, teman-teman, masyarakat, baik positif maupun negatif. Kebanyakan di luar perkiraan, di luar dugaanku. Yang kukira bakalan mendukung, sebagian malah tidak. Hahaha.....berbagai alasan mereka sampaikan. Salah satu alasan yang membuatku terharu adalah; 

"Mbak, aku terus terang gak rela kalau mbak Dewi mau mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Setahuku mbak Dewi itu sejak dulu kala 'bersih', sementara yang kutahu wakil rakyat itu koruptor semua. Aku gak mau mbak Dewi terkontaminasi menjadi seperti yang lainnya. Jadi.....mending jangan maju mbak."

Lalu yang kukira bakalan negatif responnya, malahan sangat positif, mendukung, langsung menyatakan akan memilihku sebagai wakilnya di DPRRI, apapun partai yang mengusungku mereka tidak peduli asal akulah calon wakil rakyatnya. Hmmm.......aku jadi bingung, mau bersyukur atau justru khawatir, karena dukungan bisa saja melenakanku jika tidak waspada dan istiqomah.

Yang juga di luar dugaanku,semua urusan lancar. Bantuan datang dari berbagai pihak tanpa diduga.

Yah......semua boleh berpendapat, boleh memberi usul, masukan,dan akan aku terima dengan senang hati, dengan pikiran terbuka, dan dengan prasangka baik tentu saja. Apapun niat mereka, aku terima dengan prasangka baikku. Aku balas mereka dengan hal baik meskipun jika mereka bermaksud buruk. Hehe....

Nah......dari sekian banyak komentar dan tanggapan, ada yang menyarankan aku untuk membuat semacam janji, sumpah, untuk jujur dan tidak korupsi dengan menandatangani sebuah pakta integritas lengkap dengan membuka segala informasi pribadiku. Ehem......mungkin maksudnya baik. Tapiii......makin lama makin kerasa agak gimanaaa gitu akunya karena cecaran dan tuntutan tidak logis mereka. Tapi yah.....wajarlah, karena beliau2 ini belum kenal aku, mungkin juga beliau2 ini kenalnya dengan orang2 yang sangat diragukan integritasnya. Semoga saja bukan karena beliau2 sendiri merasa integritasnya kurang Ok yaa........hohoho.......

Kenapa kubilang tidak logis? Iyalah......selama ini aku menjadi apapun termasuk saat jadi auditor yang mana aku setiap hari dihadapkan dengan berbagai iming2, tawaran menggiurkan untuk menerima sesuatu yang sangat jarang bisa ditolak saking maknyusnya. Tapi......Alhamdulillah, selama ini aku selalu berhasil menolaknya dengan halus, baik, sehingga aku tidak pernah sekalipun pulang membawa uang ataupun barang yang mencermnkan tergadainya integritasku. Bagiku, sumpah jabatan yang kuikrarkan saat aku dilantik adalah janjiku padaNya, bukan pada orang siapapun juga. Bagiku, sumpah jabatan bukanlah sekedar formalitas ataupun sekedar kertas yang nantinya akan memenuhi arsip kepegawaianku. Terserah jika orang lain berpendapat bagaimana, bagiku sumpah dan janji padaNya sangaaaaaat cukup membuatku menjaga integritasku. Dan selama ini sudah terbukti.

Lalu.......jika aku sudah memberi bukti, kenapa malahan minta janji??? Aku bukanlah politisi yang suka memberi janji, aku sudah memberi bukti. Terserah masyarakat akan mempercayai aku sebagai wakil mereka atau tidak. Bagiku menjadi wakil rakyat adalah perjuanganku yang sekarang harus aku emban, bukanlah sebuah ambisi apalagi jalan mencari rizki. Allah selalu melimpahiku dengan rejeki yang cukup, di manapun aku berjuang, beribadah, bekerja. Tidak pernah aku meragukan rejekiNya, sekalipun.

Dan siapapun, di manapun mereka berkiprah, sudah seharusnya mereka menjaga integritas mereka. Semua PNS sudah melakukan sumpah/janji jabatan setiap mereka dilantik. Lalu mereka menandatanganinya juga. Itu sudah lebih dari sekedar pakta integritas, tentunya. Tanpa ada inspektorat, pengawasan intern, maupun KPK, sudah seharusnya mereka tidak akan melakukan korupsi, menyaalahgunakan jabatan, kekuasaan, dan wewenang mereka. Demikian juga para pengemban amanah di BUMN, BUMD, profesional, serta perusahaan swasta. Akuntabilitas, integritas, bukan untuk sekedar dijadikan bahan jualan, bahan pencitraan, gembar gembor, namun jalankan saja!

Jadii......selamat berjuang teman, di manapun perjuangan kita.

Selasa, 09 Juli 2013

Anak Indonesia Itu.....

Suatu pagi aku harus menyusuri sisi lain Jakarta karena tugas dari big Bos dalam rangka mengemban amanah, menjalani sebagian peranku, fungsiku sebagai ciptaanNya. Tempat yang belum pernah kukunjungi meski masih di area Jakarta. Haha......baru sekota aja aku sudah merasa sedemikian kecil, apatah lagi dibanding seluruh karya agungNya, aku hanyalah bagian sangat kecil dari sebuah butiran debu.

Melewati sebuah pasar tradisional, hehehe......macet donk, merambat sering berhenti, membuatku tidak menyia2kan kesempatan mengamati keadaan sekitar. Anak2.......lagi2 merekalah yang membuatku terpaku memperhatikan. Ada seorang anak perempuan kecil, mungkin sekitar 2-3 tahun usianya, dengan perawakan yg menurutku menawan gemuk sedang, montok lucu, kulit coklat gelap, terlihat sehat dan gembira, sedang berdiri di antara dua orang perempuan dewasa yang aku tebak sebagai ibu dan neneknya yang berpakaian sederhana sedikit lusuh sedang duduk di depan gelaran dagangan sayuran seadanya di pinggir jalan. Sesekali anak itu menyuapkan makanan minuman ke ibu dan neneknya, lalu mereka bergantian mencium pipi chuby anak lucu itu. Ah....bahagianya mereka. Lalu di tempat lain aku melihat seorang anak lelaki nangkring di gerobag sampah yang ditarik ayahnya, sementara anak laki2 yg lebih kecil duduk persis di belakang ayahnya yang sedang susah payah membuat gerobag penuh sampah itu jalan. Mereka sesekali bercanda ketawa bertiga.......meski di gerobag sampah.

Lalu aku ingat anak2 di bagian lain, anak2 yg diasuh pembantu atau baby sitter, didorong dengan baby stroller atau sepeda kecil yg dilengkapi dorongan oleh para pengasuh yang asyik dengan hpnya atau ngobrol sesama mereka, kalau aku tanya ke mereka jawaban seragam kuperoleh, ayah ibunya ke kantor, berangkat pagi banget dan pulang malam. Sabtu Minggu acara undangan, kerjaan sampingan, atau hang out sesama eksmud teman2 keren mereka. Yang agak lebih besar sibuk dengan gadget di tangannya, atau bergerumbul di warnet bermain game online, atau les kursus sana sini. Pernah aku masuk warnet beginian, duuh.......suaranya berisik banget tapi bukan celoteh merdu kadang ngeselin anak2 yg di sana tetapi berisik suara game yang aku sangat tidak suka. Anak2nya diam.....senyap.....hanya mata mereka terpana, melotot, fokus pada layar2 komputer penuh radiasi. Sedih banget!

Lalu saat liburan seperti sekarang.... begitu banyak anak2 kutemui di airport kala tengah malam berseragam hendak umroh bersama ayah bundanya yang kelihatannya dari keluarga berada. Atau juga banyak ditemui di Singapore oleh adikku kala menemani istri dan anaknya yang memanfaatkan free tiket dari perusahaan airline tempatnya bekerja. Memang sebagian lagi sedang berlibur di 'kampung Inggris' di Kediri yang fenomenal itu, atau di pesantren liburan, atau tempat terkesan intelek lainnya. Tapi aku juga banyak lihat anak2 'berkeliaran' di jalan2, bergerombol di pinggir jalan dan bukan bermain di lapangan atau di halaman rumah seseorang atau di tanah terbuka lain yang gratis serta melakukan permainan kreatif.

Allahu Akbar!! Sedih banget.....anak2 bangsaku, generasi penerusku, berlian2 indahnya bangsa ini, kasihan banget nasib mereka. Mereka terpisah2 terkotak2 oleh kekayaan orangtua mereka. Aku tidak bisa mengerti yang manakah 'anak Indonesia' itu sebenarnya? Ingin aku melihat banyak anak-anak Indonesia seperti yang kulihat di pasar bersama ibunya, yang di pinggir jalan di atas gerobag ayahnya, yang dilimpahi cinta meski mungkin saja tidak dilimpahi harta. Yang diasuh orangtuanya sendiri dengan sepenuh kasih dan cinta. Ingin aku melihat suasana liburan yang heboh dengan teriakan anak2 segala lapisan bermain bersama di ruang bebas, di lapangan, dengan permainan gratis permainan asli bangsa ini. Aku ingin lapangan kompleks perumahan, kampung2, hiruk pikuk ramai suara celoteh teriakan anak2 yang bermain bersama saat liburan, tanpa peduli anak siapa dan seberapa kayanya orangtua mereka. Aku ingin anak2 bersatu padu dalam permainan bocah mereka yang alami yang mengaktifkan seluruh otak otot dan emosi riang mereka, dengan permainan tradisional bangsa yang gratis namun sesungguhnya sangat mengayakan.

Semoga semua itu bisa terealisasi. Dan anak2 Indonesia tumbuh sebagai anak Indonesia, sebagai berlian bangsa, sebagai aset penting, generasi penerus bangsa. #dream

Jumat, 21 Juni 2013

Kelas Inspirasi

Wuiiiih....baru sempat menuliskan pengalaman hebatku ini sekarang. Kelas Inspirasi! Ya, pengalaman hebat yang masih terkenang2 hingga kini. Sepertinya bakal selamanya.....

Bermula saat aku mendapatkan sebuah tawaran dari seseorang untuk menjadi volunteer di kegiatan yang dikomandani oleh Pak Anis Baswedan Indonesia Mengajar, sebagai inspirator, mengajar sehari dalam program Kelas Inspirasi. Meski awalnya aku gak ngerti apa itu, namun aku berminat ikut. Kedinginan di suhu -15 dercel sambil mengisi formulir dan menulis sebuah essay mengantarkan aku terpilih sebagai salah satu volunteer tersebut. Ya, ternyata melalui seleksi lagi. 

Tanggal 20 Februari.....berarti aku harus sudah di Jakarta pertengahan Februari supaya bisa ikut. Alhamdulillah tiket Lufthansa sudah di tangan, aku segera confirm untuk pulang dan memasang alarm pengingat agar sehari sebelumnya melakukan online boarding. Tidak masalah jatah visaku yang sampai akhir Februari kubiarkan hangus. Lagian, sudah dua bulan aku pergi, sudah cukup juga tugas kutunaikan meski masih kangen dan ingin berlama2 dengan berlian gantengku di sisa waktu visaku.


Oom Bondan Winarno, CEO Kompas Group, dosen, arsitek, pengacara, psikolog, bahkan ada seorang bapak usia 80 th ikut menjadi volunteer sebagai inspirator. Pembekalan yang singkat namun cukup bermanfaat, tidak mengurangi dag dig dug yang mendera dengan semakin dekatnya hari H. Email bernuansa pribadi dari Bapak Anies Baswedan, merupakan booster penyemangat bagiku yang semakin membuatku yakin bahwa aku pasti bisa!

Treng........teng........hari H pun tiba. Jam 5 pagi sudah siap di halte transJakarta, moda angkutan yang baru kali kedua kunaiki. Tas berisi laptop yang bagiku yang berbadan mungil terasa sangat berat, tak mengurangi antusiameku untuk 'mengajar', menginspirasi anak-anak bangsa, memberi mereka mimpi indah yang akan mereka raih, menyiapkan mereka menyongsong asa. Karena bagiku, mereka adalah Indonesia di masa depan! Sama dengan anak-anakaku sendiri.

Seru, menyenangkan, heboh, mengharukan, entah apa lagi kata yang pantas disebutkan. Kuajak anak-anak bermimpi, bukan hanya untuk menjadi sepertiku, bukan hanya mengenai profesiku, namun aku ajak mereka mimpi untuk menjadi diri mereka sendiri di masa depan. Lalu aku memotivasi mereka untuk meraih mimpinya. Tidak ada yang boleh menghalangi mereka untuk meraih mimpi indah mereka itu. Tidak ada satupun! Entah itu kondisi fisik mereka, kondisi ekonomi orangtua mereka, cercaan orang-orang yang menyangsikan mereka, bahkan diri mereka sendiri jangan sampai menghalanginya.

"Kapan mama ke sini lagi?" Pertanyaan mengharukan yang membuatku tersanjung. Belum lagi kujawab pertanyaan itu sudah disusul dengan rajukan; "Kan ibu harus periksa buku mimpi saya yang tadi ibu ajarkan. Sering-sering ke sini ya mama......" Lalu yang tak kalah menyenangkan saat tangan-tangan mungil berebut menarik tanganku untuk dicium yang cukup mengagetkanku yang sedang mondar-mandir karena jam terakhir adalah jam kosong untuk istirahat bagiku yang kugunakan untuk mengeksplore sekolah dan lingkungannya. Belum lagi Bapak Kepala Sekolah yang sangat kooperatif, dan guru-guru hebat yang legowo menerima kami dan ikhlas kelas kami ambil alih sehari penuh. 



Teman-teman tim Kelas Inspirasi 50 yang hebat, heboh, keren, membuatku bangga menjadi bagian dari mereka. Sungguh, Kelas Inspirasi tidak akan aku lupakan. Bravo kelas inspirasi, terima kasih semuanya, aku bangga menjadi bagian dari program ini, aku bangga menjadi bagian dari kalian semua.Tugasku menginspirasi, namun akulah yang makin terinspirasi.

Sampai sekarang, anak2 itu masih sering menghubungiku, sms, whatsapp, menceritakan tentang mimpi mereka, tentang buku mimpi yang aku ajarkan dan sudah mereka buat dan mereka bawa setiap hari, tentang senangnya mereka pernah ketemu aku, pernah aku ajar di kelas, juga betapa mereka merindukan kehadiranku lagi di sekolah mereka untuk melihat mereka, mendengar mereka merajut mimpi. Juga Kepala Sekolah dan guru2nya, mereka ingin aku datang lagi ke sana untuk kembali berbagi, menginspirasi.

Aku makin yakin, mimpiku sendiri, yang sudah kutulis, kususun kepingan puzlenya, kupupuk sejak lama, aku perjuangkan dengan berbagai upaya, akan terwujud. Mimpiku itu adalah, Indonesia Jaya, dan anak-anak bangsa menjadi tuan rumah di negrinya sendiri, di surga dunia yang sudah Allah anugerahkan sebagai tanah tumpah darah mereka. INDONESIA

“ The great pleasure in life is doing what people say you cannot do. ”
— Walter Bagehot


Salam Kelas Inspirasi,

Dewi KI 50 Feb 2013